Kuliah Umum - Pengalaman Ke Jepang dan Onigiri

11/18/2010

Maki Sakakibara, sedang menceritakan homestay-nya

28 Oktober 2010 lalu, kuliah umum diadakan pada pukul 11.00 WIB di Ruang Sidang lantai 2 Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga. Kuliah umum ini dihadiri oleh Mahasiswa Sastra Jepang Unair dari berbagai angkatan.

Dalam kuliah umum kali ini, dua orang mahasiswa Sastra Jepang Unair, Aditia dan Marlia menceritakan pengalamannya berkunjung ke Jepang. Setelah itu dua orang native kami juga menceritakan pengalaman mereka homestay di Indonesia.


Marlia menceritakan pengalamannya di Jepang secara singkat. Ia bercerita sambil menampilkan slide. Berikut kisahnya:


"Sewaktu di Jepang tepatnya di acara Yamanakono Tsudoi, banyak sekali yang dapat saya pelajari.
Sewaktu di Yamanakako, setiap hari saya harus menggunakan bahasa Jepang dan juga bahasa inggris. Kehidupan di Jepang benar-benar berbeda dengan di Indonesia. Orang Jepang benar-benar orang yang sibuk, banyak kegiatan yang dilakukan.

Sewaktu tsudoi, acara dimulai dari jam 7 pagi hingga jam 11 malam. Sungguh padat acaranya. Ternyata, selama musim panas itu, banyak sekali acara summer camp yang diadakan. Namun yang paling bagus adalah acara summer camp Yamanakako yang saya ikuti karena benar-benar bisa membangkitkan semangat.
Setiap hari saya makan bersama dengan menggunakan hashi dan ocha. Betul-betul Jepang sekali. Setiap mandi pun harus ke ofuro, dan toilet di Jepang benar-benar canggih, tidak seperti di Indonesia.

Saat tsudo berakhir, saya ke Tokyo dan Kobe. Di Tokyo saya tinggal di asrama Ashinaga yang berada di Tokyo. Dan tinggal bersama anak-anak Ashinaga. Mereka benar-benar sibuk. Setiap pagi harus bangun jam 6.30, lalu kumpul untuk bersih-bersih. Sama juga dengan di kobe."


1 September 2010 lalu, Aditia Rahman juga menceritakan pengalamannya ke Jepang. Ia menceritakan pengalamannya dalam dua versi, versi Indonesia dan Jepang. Berikut kisahnya :
三週間に日本へ行けたのは本当によかったと思います。三週間たくさんのことを経験しました。そのとき日本のことをたくさん勉強できました。日本の生活は日本の文化や日本人の考え方を知ることができました。
初めて日本に行ったのは9月1日でした。成田空港で板垣ゆかりさんは待っていてくれて東京駅へ連れて行ってくれました。東京駅であしながの学生がみんな集まってつどいに参加するのため一緒にバスで山中湖へ行きました。
つどいは六日間にありました。つどいはグループにわけて、いろいろな国の踊りで始まりました。そしてウェルカムパーティに続きます。それが終わってから、みなさんはべつべつのグルップに集まって、仲良くするためにゲームをして、11時まで終わりました。
つどいのあさ「おわらない歌」を歌って、Waving Flagの歌で一緒にダンスしていました。つどいの二日目公園へ連れて行ってくれて、いろいろなゲームをしたり散歩したりしていました。あそこにも同じグルップの人々と一緒に写真を撮って、その絵についてを説明しなければなりません。夜に同じグルップの人が部屋に集まって、べつべつの自分史をしていました。
つどいの間にいいことや役に立つことを知ることができます。つどいで大勢演説者が来られました。あしながの社長のたまい先生やウガンダの社会運動家のAmutuhaire Wellingtonさんです。WellingtonさんはアフリカのウガンダのHIV/ AIDS活動家です。WellingtonさんによるとウガンダでHIV/ AIDSがひろまりやすいそうです。もうひとつの演説はブラジルでボランティアになったのあしながの学生です。彼はブラジルがウガンダと同じぐらいと言いました。
次の日、つどいの四日目フェスタでした。フェスタではいろいろな国の文化を知ることができます。たとえば、インドネシア、ウガンダ、インド、スリランカ、ベトナム、メキシコ、中国です。それから弁論大会がありました。弁論大会でテーマは「将来なにをしたいですか」でした。
次の日二人の演説者が来られました。その方はソフトバンクで課長をしているあしながの卒業生です。その方は自分史をして、それはみんなさんに頑張る気持ちを与えました。ほかは日本の国立の野球選手になったあしながの学生です。
夜にキャンプファイアーがあって、それはつどいの活動の最後です。キャンプファイアーにも「おわらない歌」を歌って、Waving Flagの歌で一緒にダンスしていました。
つぎの朝、つどいはもう終わって、送別会がありました。もう一回「おわらない歌」を歌って、Waving Flagの歌で一緒にダンスしていました。

つどいが終わってから、私はあしながの外国学生と一緒に東京こころ塾へ帰りました。こころ塾まで、そこでの先生方と学生たちと紹介しました。
つぎの朝、あしなが外国学生とWellingtonさんとあしながの事務所へ行きました。それから私たちはあしながの先生にDIETへ案内してもらいました。DIETで私たちはあしながの卒業生に出会います。卒業生さんはDIETの人になりました。その後、DIETのビルを見学しました。DIETの後、私たちは皇居を散歩しました。皇居の外だけに散歩できました。
次の日、たまい先生と塚田先生にであうためにもう一回あしながの事務所へいかなければなりません。そのとき、あしながへありがとうのことばを言います。その日は大風があったからあしなが事務所の後、どこへも散歩できませんでした。
次の日は塚田先生とミキアルさんと東京でGARUDA INDONESIAの事務所へ行きました。GARUDA INDONESIAの事務所でもありがとうのことばを言いました。それから東京タワーへ行きました。
9月10日はIDUL FITRIで、インドネシア-日本国際学校でIEDお祈りをしました。そのあとインドネシアの大使館にOPEN HOUSEがありました。そこで大勢のインドネシア人がOPEN HOUSEに出ました。
9 月11日わたしマルリアさんと神戸へ行きました。私たちは12時に東京駅から「のぞみ」新幹線で新大阪駅まで3時間ぐらいかかりました。新大阪からみきやさんとひとみさんは待っていてくれました。それから一緒に神戸こころ塾へ行きました。神戸こころ塾へ行ってから二人と神戸市のMOSQUEへ行きました。そこでお祈りをしました。でも、早く帰らなければなりませんでした。こころ塾でウェルカムパーティがあったからです。神戸こころ塾には学生が少ないから私たちは早くなかよくなりました。
次の日けいたさんとかなこさんとみきやさんとジュリアスさんと神戸を散歩しました。私たちは神戸ぬのひびきはぶ公園へ行きました。公園が岡の上にあったから、ロープウエイに乗りました。ロプウエイから神戸市の景色や神戸ダムがみえます。神戸ぬのひびきはぶ公園の後、 1180年にたいらのきよもりが建てた神道のお寺へ行きました。そこで、結婚式があったんですが終わるまでに見ることができませんでした。そこから中国の場所へ行きました。最後にMOZAIKの食堂で食事しました。
つぎの日は小壷古墳へ行きました。月曜日は開いていないから古墳に入ることができませんでした。外からだけ見ることができます。
京都に、金閣寺や仏教のお寺やいなりのお寺へ行きました。いなりのお寺にたくさんとりいがあります。たくさんがあったから「千のとりい」と呼ばれています。京都にいる時天気が悪いから早くこころ塾へ行きました。
大阪は次の目的地です。前から行きたかった場所です。天気が悪いから大阪タワーと大阪城だけ行くことができました。大阪でおこのみやきも食べました。大阪城の中に博物館があります。大阪城が建てる話と豊臣秀吉様の自分史を知ることができました。私は豊臣秀吉様のことがすきです。私は個性とリダーシップにおどろきました。大阪から帰る後に神戸こころ塾に送別会があります。次の日は東京へ戻らなければなりません。
9月16日「のぞみ」新幹線で東京へ戻りました。東京駅に着いたとき岩崎あつこさんに迎えに来てもらいました。新宿のCoffee Shopに用事があって、ウィナさんに会いました。話し合ってからこころ塾へ帰りました。東京へ戻ってから暇の時間がありました。だから、東京のどこへもいくことができました。そこでリスキ先生とドウィ先生と会いました。リスキ先生はこころ塾に来ましたがデゥイ先生と会うために新宿に行かなければなりません。新宿に行く前にリスキ先生と塚田先生とのりさんとラフマットさんとマルリアさんと聖蹟桜ヶ丘で食事しました。それから板垣さんと新宿へ行きました。ドゥイ先生と会った後に私たちが話し合って、カラオケにしました。夜に板垣さんとマルリアさんとこころ塾へ帰って、リスキ先生も名古屋へ帰らなければなりません。
9月20日は日本での最後の活動で、ラフマットさんと秋葉原と浅草へ行きました。浅草へ行くために三回電車を乗り換えました。秋葉原は東京にある電気の道具センターです。いろいろな電気の道具があります。そこから浅草へ行きました。その時浅草でお祭りがありました。だからたくさん人がいました。
次の日は私とマルリアさんがインドネシアへ帰らなければならないから送別会を開きました。祖別会で私はインドネシアの歌を歌いました。私は二つインドネシアの歌を歌いました。それらは「Lembayung Bali」と「Kesepian Kita」です。二つの歌は友達のことを説明しています。
つどいと日本のたびでたくさんの経験やともだち仲良くして日本の生活や文化のことを勉強できました。


Versi Indonesia:


Perjalanan 3 Minggu di Jepang memberikan banyak sekali pelajaran dan pengalaman baru untuk saya. Semoga pengalaman ini dapat bermanfaat bagi hidup saya untuk waktu yang akan datang.
Perjalanan saya diawali dengan kedatangan saya di Bandara Narita Jepang tanggal 1 September pagi, dan disana sudah menunggu Itagaki Yukari untuk menjemput kedatangan saya dan mengantar saya ke Stasiun Tokyo. Dimana disana siswa Ashinaga dari seluruh Jepang berkumpul untuk bersama-sama berangkat ke Yamanakako untuk mengikuti Summer Camp.
SummerCamp yang berlangsung selama 6 hari dimulai sore hari dengan pembagian kelompok dan dibuka dengan tarian multibangsa dari Negara-negara yang mempunyai kerjasama dengan Ashinaga. Dan dilanjutkan Welcome Party.
Setelah Welcome Party selesai, semua berkumpul menurut kelompoknya masing-masing dan diisi dengan permainan untuk semakin mendekatkan antar anggota kelompok. Acara hari itu berakhir pada jam 11 malam.
Esoknya dan hingga Tsudoi berakhir, acara dibuka dengan menyanyi dan menari yang digunakan untuk membangkitkan semangat para peserta Tsudoi untuk memulai kegiatan hari itu. Hari kedua Tsudoi, kita dibawa ke sebuah taman untuk melakukan berbagai permainan dan jalan-jalan. Di taman tersebut ada sebuah kompetisi pose foto dan tiap kelompok harus mempresentasikan arti pose foto dari tiap-tiap kelompok.
Pada hari kedua ini juga tiap kelompok berkumpul dalam kamar masing-masing untuk acara curhat. Disini masing-masing anggot kelompok akan menceritakan kisah perjalanan hidupnya dan bagaimana mereka menjadi yatim piatu. Acara ini dilakukan dengan khidmat dan dipimpin oleh Leader kelompok masing-masing. Kegiatan ini membuat kita semakin kuat untuk menjalani hidup serta tidak mudah menyerah menhadapi tantangan hidup.
Selama Tsudoi berlangsung ada banyak sekali manfaat yang dapat diperoleh. Di Tsudoi juga didatangkan banyak pembicara dari berbagai kalangan, diantaranya Tamai Sensei yang merupakan Oranng tertinggi di Ashinaga. Serta beberapa Alumnus Ashinaga, seorang pekerja Sosial asal Uganda Mr. Wellington yang bergerak untuk memerangi virus HIV/AIDS di Uganda. Beliau menceritakan bahwa betapa mudahnya virus HIV/AIDS menyebar di Afrika dan Uganda pada khususnya. Serta siswa Ashinaga yang pernah menjadi Volunteer di Brazil dan menceritakan tentang kehidupan di Brazil yang memprihatinkan dan rawan akan Virus HIV/AIDS.
Tsudoi hari keempat diisi dengan festa. Festa ini adalah dimana kami diajak untuk melihat berbagai budaya dari Negara-negara yang memiliki kerjasama dengan Ashinaga. Diantaranya Indonesia, Uganda, India, Sri Lanka, Vietnam, Meksiko dan China. Disini kita bisa belajar budaya dari Negara-negara tersebut langsung dari orang-orangnya asli ataupun dari siswa-siswa Ashinaga yang pernah dikirim ke Negara-negara tersebut untuk menjadi Volunteer. Hari itu juga diisi game untuk kelompok-kelompok yang mengikuti Tsudoi. Dan diakhiri dengan lomba Pidato yang bertema tentang hal apa yang ingin kita lakukan untuk dunia dimasa yang akan datang.
Hari selanjutnya didatangkan seorang pembicara yang merupakan alumnus siswa Ashinaga yang bekerja sebagai seorang Kacho di salah satu perusahaan telekomunikasi di Jepang, SoftBank. Beliau menceritakan perjalanan hidupnya yang dapat memberikan pelajaran berharga dan menumbuhkan semangat kami untuk tidak menyerah pada keadaan hidup, namun dari kekurangan itu seharusnya dijadikan semangat untuk maju dan lebih baik untuk kehidupan kita selanjutnya. Selain itu beliau juga menceritakan tentang SoftBank dan produk-produknya, dan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab.
Selain itu juga ada seorang siswa Ashinaga yang juga mempunyai prestasi yng membanggakan. Dia merupakan seorang atlit Yakyu yang sudah mendapatkan penghargaan Nasional dari Pemerintah Jepang.
Pada malam harinya diisi acara penutupan Tsudoi dengan penyalaan api unggun dan sebuah prosesi yang melambangkan bahwa seluruh siswa Ashinaga adalah sebuah keluarga yang tidak dapat terpisahkan hingga mati mendatangi kita. Disela acara tersebut kita kembali menyanyi “Owaranai Uta” dan menari yang diiringi lagu “Waving Flag” yang menggambarkan kebersamaan dan menghilangkan perbedaan. Ini juga berarti kita bias berjalan bersama dan tidak ada perbedaan di Dunia ini.
Esoknya yaitu perpisahan merupakan waktu yang sangat mengharukan. Dimana kita selama kurang lebih 1 Minggu bersama merasakan senang dan sedih, tangis dan tawa harus terpisahkan. Kembali tangis dan tawa mewarnai perpisaha tersebut. Saat itu kita diharuskan menulis sebuah angket tentang pelaksanaan Tsudoi serta pesan dan kesan kepada sesame anggota kelompok. Setelah itu semuanya berakhir dengan menyisakan sebuah kenangan indah tentang sebuah arti persahabatan didalam banyaknya perbedaan yang dikemas dalam Tsudoi.
Setelah acara Tsudoi berakhir, semua kembali ke tempat asalnya masing-masing, dan saya pulang ke Ashinaga Tokyo Kokorojuku untuk melanjutkan rangkaian acara selama di Jepang. Bus kembali ke Stasiun Tokyo dan saya harus melanjutkan perjalanan pulang ke Asrama dengan kereta. Setelah harus berganti kereta di Stasiun Shinjuku perjalanan dilanjutkan kereta Keio Line untuk ke Asrama. Sampai di Asrama saya langsung istirahat karena sangat lelah setelah mengikuti Tsudoi di Yamanakako. Malam harinya diisi dengan perkenalan dengan siswa dan Sensei yang tinggal di Asrama.
Esok paginya saya ditemani siswa Ashinaga luar negeri dan Mr. Wellington mengunjungi kantor Ashinaga, dan kemudian diantar salah seorang Sensei Ashinaga untuk mengunjungi Gedung DIET. Kami diberi kesempatan untuk mengunjungi DIET karena salah satu anggota Parlemen Jepang adalah alumnus Ashinaga. Setelah bertemu dengan anggota Parlemen tersebut kami dipersilahkan untuk melihat-lihat keadaan dan suasana didalam Gedung DIET. Setelah puas berkeliling Gedung DIET kami mampir untuk jalan-jalan ke Koukyo atau Istana Kerajaan Jepang yang lokasinya tidak jauh dari Gedung DIET. Namun kita hanya dapat berjalan-jalan di luar lingkungan Istana karena Istana Kerajaan tidak dibuka untuk umum.
Hari berikutnya kami kembali ke Kantor Ashinaga untuk menemui Tamai Sensei dan Tsukada Sensei yang pada hari sebelumnya berhalangan datang. Kami kesana untuk sekedar berbicara dan mengucapkan Terima Kasih atas kesempatan yang diberikan kepada kami untuk dapat mengunjungi Jepang. Namun saying sekali karena adanyta Taifun di Laut Pasifik, Jepang terkena imbas hujan yang sangat lebat sehingga hari itu kami tidak dapat melanjutkan untuk jalan-jalan.
Dan hari berikutnya dengan diantar Tsukada Sensei dan Mikial Maulita, seorang siswa ashinaga asal Aceh untuk berkunjung ke Kantor Garuda Indonesia di Tokyo untuk mengucapkan Terima Kasih atas dukungan PT Garuda Indonesia yang telah mensponsori kami untuk bias pergi ke Jepang serta penyerahan cendera mata Unair untuk PT Garuda Indonesia. Setelah acara itu saya, Marlia dan Mikial jalan-jalan ke Tokyo Tower.
Tanggal 10 September yang bertepatan dengan Idul Fitri, kami yang beragama Islam menjalankan Sholat Ied di Sekolah Internasional Indonesia-Jepang dan dilanjutkan dengan Open House di Kedutaan Besar Indonesia untuk Jepang. Disana berkumpul banyak warga Indonesia yang belajar ataupun yang bekerja di Jepang.
Tanggal 11 September saya dan Marlia untuk berangkat ke Kobe. Kami berangkat dari Stasiun Tokyo pukul 12 dengan Shinkansen “Nozomi” menuju Stasiun Shin-Osaka, dan perjalanan memerlukan waktu 3 jam. Sampai di Stasiun Shin-Osaka kami sempat saling mencari dengan penjemput dari Kobe Kokorojuku. Dan setelah 30 menit kami berhasil bertemu di bagian Informasi. Setelah itu kami langsung menuju ke Kobe kokorojuku, dan setelah sebentar berkenalan dan berbincang-bincang dengan Sensei di Kobe kokorojuku, kami dengan diantar Mikiya San dan Hitomi San untuk mengunjungi Masjid Agung Kobe. Kami sempat melaksanakan Sholat Maghrib berjamaah di Masjid Kobe yang mayoritas jamaahnya adalah warga Timur Tengah. Namun itu tidak berlangsung lama karena kami harus kembali ke Kobe kokorojuku untuk mengikuti acara Welcome Party dan beristirahat. Kami cepat akrab karena hanya sedikit siswa Ashinaga yang tinggal di Kobe kokorojuku.
Esoknya bersama Keita San, Kanako San, Julius dan Mikiya San, kami berjalan-jalan di Kobe. Kami sempat mengunjungi sebuah Taman Kobe nuno hibiki ha-bu koen yang terkenal di Kobe. Untuk mencapai Taman yang terletak diatas bukit, kami harus menggunaka kereta Gantung untuk kesana. Dari atas kereta gantung kami dapat melihat pemandangan Kota Kobe secara keseluruhan, juga Kobe Dam yang terkenal itu. Kami hanya sebentar berjalan-jalan di Taman tersebut karena masih banyak tempat yang harus kami kunjungi.
Setelah dari tempat tersebut kami jalan-jalan ke tempat lain di Kobe. Salah satunya adalah Kuil Shinto yang didirikan pada Tahun 1180 oleh Taira no Kyomori. Dan beruntung saat mengunjunginya, ada pelaksanaan Pernikahan disana. Tapi kami tidak dapat mengikuti upacara pernikahan tersebut hingga akhir karena dilakukan secara tertutup. Selanjutnya kami jalan-jalan ke Pechinan di Kobe. Kobe memang terkenal dengan penduduknya yang Multi Etnis dari berbagai Negara. Dan hari itu diakhiri dengan makan malam di sebuah pusat perbelanjaan terkenal di Kobe, Mozaik yang kebetulan tempatnya berdekatan dengan Kobe Tower.
Esoknya perjalanan dilanjutkan ke Kofun atau makam kuno Jepang. Namun sekali lagi kami kurang beruntung karena hari itu hari Senin dan Kofun sedang ditutup sehingga kami tidak bias masuk. Kami hanya bias melihat besarnya Kofun dari luar lingkunan Kofun itu sendiri.
Setelah hari yang mengecewakan kemarin karena tidak berhasil masuk ke Komplek Kofun, esoknya kami ke Kyoto, tempat yang terkenal akan Budaya dan sejarahnya. Selama di Kyoto kami mengunjungi Kinkakuji, Kuil Budha yang merupakan pusat pengembangan agama Budha di Jepang, serta Gerbang Otori. Gerbang Otori ini lebih dikenal dengan 1000 Otori. Tapi karena hamper petang dan cuaca yang kurang baik kami segera pulang ke kokorojuku lagi.
Dan Osaka adalah tujuan kami pada keesokan harinya. Tempat yang sudah lama ingin saya kunjungi. Dan lagi-lagi cuaca hujan yang mengganggu jalan-jalan kami. Sehingga hanya Osaka Tower dan Benteng Osaka yang dapat kami kunjungi. Serta tidak lupa untuk makan Okonomiyaki Osaka yang terkenal itu. Di Benteng Osaka, kami serasa kembali ke masa lalu, karena didalamnya terdapat Museum yang menceritakan tentang dibangunnya Benteng Osaka dan sejarah hidup Toyotomi Hideyoshi. Toyotomi Hideyoshi adala salah satu tokoh Jepang yang saya kagumi. Sehingga saya bersemangat sekali untuk mengikuti sejarah hidup Toyotomi Hideyoshi. Dan sekali lagi saya sangat ingin pergi kesana lagi. Karena itu untuk mencapainya harus lebih bersemangat lagi.
Malamnya acara perpisahan diadakan karena besoknya kami harus kembali ke Tokyo. Dan Kobe meninggalkan sebuah kenangan yang tak bias saya lupakan.
Tanggal 16 September kami kembali ke Tokyo dan sekali lagi naik Shinkansen “Nozomi” dari Shin Osaka. Sampai di Tokyo kami dijemput Iwasaki Atsuko San karena kita ada janji untuk bertemu Wina San di Shinjuku. Kami menghabiskan waktu untuk minum kopi di sebuah Coffee Shop di Stasiun Shinjuku. Malamnya kembali ke Tokyo kokorojuku lagi.
Setelah kembali ke Tokyo, kami memiliki banyak waktu senggang. Sehingga saya sering berjalan-jalan di Tokyo bersama anak-anak Ashinaga lain ataupun berjalan-jalan sendirian. Untuk berjalan-jalan ke tempat yang jauh, biasanya ada yang menemani. Contohnya untuk jalan-jalan ke Harajuku atau Akihabara dan Asakusa. Tapi banyak waktu saya habiskan untuk berjalan-jalan sendiri, karena lebih bebas.
Setelah kembali ke Tokyo kami sempat bertemu Riski Sensei dan Dwi Anggoro Sensei. Riski Sensei sempat pergi ke kokorojuku, tapi untuk bertemu Dwi Sensei kami harus pergi ke Shinjuku untuk bertemu disana. Tapi sebelum ke Shinjuku untuk bertemu Dwi Sensei, saya bersama Riski Sensei, Tsukada Sensei, Nori San, dan Rahmat makan siang bersama di Seiseki Sakuragaoka.
Kami berangkat ke Shinjuku bersama Itagaki Yukari San. Dan setelah bertemu Dwi Sensei kita makan kue bersama, dilanjutkan dengan karaoke. Setelah selesai karaoke, kami berpisah di Shinjuku. Saya bersama Itagaki Yukari San dan Marlia kembali ke kokorojuku sementara Riski Sensei harus pulang ke Nagoya.
Besoknya saya bersama Rahmat San berjalan-jalan ke Akihabara dan Asakusa. Untuk ke Asakusa kami harus naik kereta tiga kali dan Chikatetsu satu kali. Kami berjalan-jalan di Akihabara yang merupakan pusat Elektronik di Tokyo, bahkan Jepang. Setelah itu kami pergi ke Asakusa. Dan kebetulan di Asakusa edang ada Omatsuri sehingga sangat ramai. Karena ramainya saya dan Rahmat terpisah, dan kami pun pulang sendiri-sendiri. Dan beruntung kami akhirnya bertemu di Stasiun Shinjuku.
Malamnya acara perpisahan diadakan karena besoknya saya dan Marlia harus kembali ke Indonesia. Di acara perpisahan tersebut saya diminta untuk membawakan beberapa lagu berbahasa Indonesia. Akhirnya saya menyanyikan dua buah lagu Indonesia yang keduanya menceritakan tentang persahabatan, yaitu Lembayung Bali dan Kesepian Kita. Kedua lagu itu saya pilih karena saya menemukan banyak sahabat selama di Jepang.
Pelajaran yang dapat saya ambil selama Tsudoi dan perjalanan saya di Jepang adalah tentang arti kebersamaan dan persahabatan. Juga tentang kehidupan masyarakat Jepang yang disiplin dan sangat menjaga Budaya Tradisional serta tentang kebersihan lingkungan Jepang. Semoga pengalaman ini bermanfaat untuk hidup saya selanjutnya.


Selanjutnya dua native Sastra Jepang Unair juga menceritakan pengalamannya homestay di Indonesia. Mereka bercerita dengan menggunakan Bahasa Indonesia. Pertama, Nozomi Narahara menceritakan pengalamannya ber-homestay di Tegal:


Selamat siang semuanya,
Hari ini saya, Nozomi akan happyou tentang homestay.

Bulan Agustus kemarin, kira-kira tanggal 10-16, saya pergi ber-homestay ke Tegal. Semua disini tahu tahu apa itu homestay kan?
Homestay adalah suatu kegiatan dimana kita menginap dirumah orang lain dan tinggal bersama dengan keluarga mereka selama beberapa hari. Saya ber-homestay di rumah siswi 1 nen bernama Yosephine selama kurang lebih 1 minggu.

Kali pertama saya tiba disana, saya bingung karena saya baru datang ke Indonesia dan hanya pernah tinggal di Surabaya. Tetapi menurut saya, itu bukanlah masalah. Karena saya tidak sendirian. Ada Yosephine yang membantu saya untuk bersosialisasi dengan yang lainnya.

Di Tegal, Yosephine tinggal bersama dengan orang tuanya. Yosephine mempunyai seorang adik laki-laki. Dirumah Yosephine juga ada dua orang pembantu. Salah satu dari mereka telah bekerja untuk Yosephine selama 30 tahun. Oleh sebab itu, Yosephine sudah menganggap beliau seperti keluarga sendiri. Karena Yosephine sudah sangat percaya pada beliau. Maka setiap saya dan Yosephine pergi berjalan-jalan, beliau selalu ikut menemani kami.

Pertama-tama kami pergi ke tempat pemandian air panas. Nama tempat itu adalah Guci. Kami pergi ke sana naik mobil dengan keluarga Yosephine. Disana saya tidak ikut mandi tetapi hanya berfoto-foto saja. Karena pemandangannya sangat indah. Di sekeliling kolam hanya ada gunung. Saya suka sekali gunung. Dalam perjalanan pulang dari Guci, kami mampir ke sebuah rumah makan. Disana kami makan masakan Cina. Waktu itu saya makan daging katak untuk pertama kali. Masakan tersebut enak. Tetapi saya merasa sedikit takut melihat kaki katak ada didalam masakan.

Hari berikutnya, sore hari saya, Yosephine dan pembantunya pergi ke mall dan makan es salju. Dan pada saat itu Yosephine menjelaskan kepada saya tentang arti "salju" dalam Bahasa Jepang. Saya teringat akan musim salju. Setelah berjalan-jalan di mall, kami pergi ke pasar malam. Disana saya membeli baju batik untuk oleh-oleh. Di toko, begitu penjual batik tahu kalau saya orang Jepang, beliau menanyakan nama saya. Entah mengapa, setelah saya memberitahukan nama saya, beliau mengucapkannya lalu penjual yang lain pun ikut memanggil nama saya. Saya merasa menjadi orang terkenal. Setelah berbelanja, kami pergi ke alun-alun dekat pasar malam. Kami naik becak, satu becak tiga orang. Setelah itu kami pulang.

Selama di Tegal, saya pergi ke banyak tempat dan selalu membaca makanan khas daerah yang saya kunjungi tersebut. Karena di Tegal saya terlalu banyak makan. Pada saat kembali ke Surabaya badan saya sedikit agak melar. Kata Yosephine, orang Tegal itu suka makan. Oleh karena itu, dapat dijumpai bermacam-macam makanan disana.

Yang paling membuat saya terkesan pada saat saya ber-homestay di Tegal adalah orang-orang Tegal. Yosephine adalah pemeluk Agama Kristen, sedangkan dua pembantunya adalah orang Islam. Namun meskipun begitu, Yosephine tidak melarang dan tetap menghormati pembantunya untuk berpuasa. Selain itu, dengan tetangga Yosephine yang lain yang berbeda agama pun mereka bisa saling mengerti. Selain orang Islam dan Kristen, di Tegal juga banyak dijumpai etnis Cina. Walaupun terdapat banyak etnis dalam lingkungan tempat tinggal, mereka dapat hidup bersama-sama. Walaupun ajaran mereka berbeda, mereka tetap bisa menghargai dan menghormati satu sama lain. Oleh karena itu mereka dapat hidup bersama secara rukun dan damai tanpa menyakiti satu sama lain.

Saya sangat berterima kasih kepada keluarga Yosephine dan juga Nunuk-sensei yang telah merencanakan homestay untuk saya. Terima kasih banyak!


Selanjutnya Maki Sakakibara menceritakan homestay nya di Lamongan:


Selamat siang semuanya.

Pada bulan Agustus, para dosen telah merencanakan homestay untuk saya. Oleh karena itu, hari ini saya bermaksud menceritakan tentang homestay.
Saya homestay dirumah Mey mulai tanggal 10 sampai 16 Agustus. Rumah Mey ada di Lamongan. Saya pergi kesana naik bus selama kira-kira dua jam. Lamongan berbeda dengan Surabaya, di Lamongan ada banyak sawah dan jumlah mobil sedikit. Sehingga menurut saya udara di Lamongan jauh lebih bersih dari pada di Surabaya. Sesampainya disana saya disambut lalu dihidangkan buah-buahan oleh ibu Mey.

Cara saya berkomunikasi dengan keluarga yaitu dengan mencampurkan antara gerakan, Bahasa Indonesia dan Bahasa Jepang. Tetapi saya lebih sering menggunakan kamus. Selain itu saya juga diajarkan Bahasa Jawa oleh keluarga. Contohnya wareg, monggo, kates, dan masih banyak lagi. Setelah ngobrol dengan ibu Mey saya makan malam. Masakan ibu sangat enak. Tapi bagi saya agak pedas. Kemudian mandi lalu tidur. Waktu tidur, kira-kira jam tiga malam saya terbangun. Kenapa? Karena hari itu adalah hari pertama puasa. Begitu jam tiga malam ada suara orang bilang "sahur...sahur...". Di Jepang kebiasaan seperti itu tidak ada. Oleh karena itu, saya benar-benar kaget. Setelah suara sahur tidak ada, saya melanjutkan tidur lalu bangun lagi jam delapan pagi.

Pada hari kedua, saya pergi ke pasar. Saya tidak membeli apa-apa. Meskipun saya hanya melihat,
tetapi saya tetap senang. Setelah pulang kerumah, makanan yang telah dibeli dari pasar dihidangkan untuk saya. Misalnya anggur, kurma, dan lain-lain. Karena saya belum pernah makan kurma, dan lagi karena nama buah kurma saya merasa lucu, benar-benar terkesan. Kurma kalau dalam bahasa Jepang berarti mobil bukan? Oleh karena itu mudah mengingatnya.
(Catatan editor: Orang Jepang mengucapkan "kurma" menjadi "kuruma" yang berarti "mobil" dalam Bahasa Jepang)

Hari keempat, kami pergi ke WBL untuk membeli oleh-oleh. Di WBL ada banyak benda misalnya pakaian, makanan, dan lain-lain. Saya membeli kue dan gantungan kunci. Karena tidak enak badan, kami segera pulang. Lain kali kalau kondisi badan saya sehat dan ada kesempatan, saya ingin pergi ke WBL lagi.

Hari ketujuh, saya kembali ke Surabaya dengan selamat.
Pada waktu homestay, ada hal yang menyenangkan ada juga yang kurang menyenangkan. Hal yang menyenangkan adalah bisa merasakan kehidupan di pedesaan dan bisa menghabiskan saat-saat menyenangkan bersama keluarga Mey. Sedangkan, hal yang kurang menyenangkan adalah selama 1 minggu saya terus menerus digigit nyamuk dan kondisi badanpun jadi memburuk. Tetapi karena telah
menjalani banyak pengalaman baru, bagi saya, 1 minggu itu sangat berharga dan menyenangkan. Saya
ingin berterima kasih pada para dosen yang telah membuat saya merasakan kesempatan seperti itu.


Terakhir, acara ditutup dengan dihidangkannya onigiri hasil kepalan tangan para Mahasiswa Sastra Jepang Unair.

You Might Also Like

0 komentar