Happyou Pengalaman ke Jepang!

11/26/2011

Sari, Nurul, dan salah satu sensei dari Ashinaga di Bandara Narita
 
Tanggal 16 dan 17 November pukul 09.00 ditengah kuliah Chujokyu Kaiwa, diadakan happyou atau laporan dari 2 mahasiswi Sastra Jepang UNAIR yang telah berangkat ke Jepang pada tanggal 28 Agustus sampai 14 September 2011. 2 orang mahasiswi itu adalah Nurul Indah Susanti (happyou tanggal 16 November 2011) dan Sari Saraswati (happyou tanggal 17 November 2011). Happyou ini menceritakan pengalaman mereka berdua selama berada di Jepang. Berikut pengalaman mereka :
Nurul Indah Susanti :
Alhamdulillah, puji syukur kepada Allah SWT hingga saya bisa menginjakkan kaki di Negeri sakura. Pada tanggal 29 Agustus 2011 kemarin, kira – kira pukul 09.00 waktu setempat kami tiba di Bandara Internasional Narita. Disana sudah ada 2 orang yang menunggu kedatangan kita. Katsuhara Sensei yang merupakan salah satu Sensei dari Ashinaga dan juga Rahmat yang merupakan penerima Beasiswa Ashinaga asal Aceh. Kami pun masih harus melanjutkan perjalanan dengan Bus Limousine untuk sampai di asrama Tokyo. Perjalanan kurang lebih ditempuh dalam waktu 3 jam. Kami berhenti di Stasiun Seiseki dan dilanjutkan dengan naik taksi untuk sampai ke asrama, kira kira hanya 10 menit. Kami Sampai di asrama Tokyo Kokorojuku , kami berkenalan dengan Sensei yang saat itu ada di asrama , Yoshida Sensei. Setelah itu kami pun mendapat kamar dan istirahat sejenak. Di asrama tersebut kami juga bertemu dengan satu mahasiswa asal Aceh lagi bernama Mikial Maulita yang sama seperti Rahmat mendapatkan program Beasiswa dari Ashinaga. Kira – kira 2 jam kami istirahat, dan pergi keluar bersama kedua mahasiswa asal Aceh tersebut dan juga seorang mahasiswa dari Afganistan bernama Keihan untuk makan malam. Karena pada hari itu mereka masih berpuasa, maka mereka ingin berbuka puasa di luar dan karena Kami tidak puasa di hari itu, maka kami sekalian makan malam, di Restoran yang bernama Seizeriya dekat Stasiun Seiseki, hanya satu kali naik kereta lokal untuk bisa sampai di sana. Kami pun makan sambil bercerita banyak hal, menyenangkan sekali. Setelah makan kami pun pulang kembali ke asrama. Karena hari itu kami masih sangat lelah sekali, kamipun segera istirahat.
Keesokan harinya ternyata Sholat Ied. Dengan orang yang sama pula, kami berlima pergi untuk menunaikan Ibadah Sholat Idul Fitri di salah satu masjid Turki yang terletak di daerah Yoyogi. Setelah Sholat, kamipun di persilahkann untuk menikmati hidangan yang telah di siapkan, Masakan khas Pakistan. Disana kami berkumpul dengn orang2 dari Turki khususnya dan makan bersama jama’ah yang lain. Setelah itu kami janji untuk bertemu Gandhi Sensei di masjid tersebut. Kira2 pukul 11.30 Gandhi Sensei tiba dan mengajak kita untuk makan tempura di toko langanannya dekat Stasiun Shin Okubo. Setelah kami selesai makan tempura, kami berpisah dengan Gandhi Sensei karena beliau harus pulang dan masih ada banyak tugas yang harus di selesaikan, begitu juga dengan Mikial, karena hari itu dia berhalangan maka dia harus kembali ke asrama. Akhirnya saya, Sari, Rahmat dan Keihan melanjutkan perjalanan ke Tokyo Tower hingga sore. Kami juga sempat mampir ke kuil yang terletak di dekat Tokyo Tower, Zojouji Dera. Setelah dari Tokyo Tower kamipun pulang kembali ke asrama. Sebelum pulang kami mampir untuk makan malam di restoran yang sama saat makan malam pertama kemarin. Setelah itu barulah kami pulang dan bersiap siap untuk pergi ke Yamanakako untuk acara Summer Camp keesokan harinya.
Esok hari sekitar pukul 7 pagi kami berdua bersama Rahmat dan Keihan berangkat menuju stasiun Tokyo dimana semua murid Ashinaga berkumpul disana dan akan berangkat bersama menggunakan bis menuju Yamanakako, tempat pelaksanaan acara Summer Camp. Setidaknya ada 12 bis disediakan dengan kapasitas masing2 bis sekitar 40 penumpang. Perjalanan ditempuh sekitar 3 jam. Sampai di Yamanaka, ternyata cuaca sedang tidak bersahabat, gelap dan hujan. Hujan terus turun selama acara summer camp berlangsung, bahkan sempat ada Topan. Sehingga kami tidak bisa keluar dari dalam hotel dan juga melihat Gunung Fuji. Menurut Informasi, sebenarnya jika cuaca cerah kami bisa melihat Gunung Fuji dari tempat camp kami. Di hall kami harus antri mengambil kartu nama untuk bisa mengetahui ada di kelompok mana kita bergabung. Setelah itu kami berkumpul bersama teman satu kelompok untuk memulai acara pembukaan. Tetapi sayang sekali, karena kondisi badan saya hari itu kurang baik, saya tidak bisa mengikuti acara pembukaan. Alhasil hari itu saya harus istirahat total. Baru di hari berikutnya mulai ikut rangkaian acara yang sudah di jadwalkan. Acara di Yamanaka di mulai pada pukul 07.00 dan berakhir pukul 11 malam. Setiap pagi kami harus berkumpul di hall pukul 07.00 dan memulai agenda dengan bernyanyi lagu “Egao no Manma” dan menari dengan diiringi lagu “Waving Flag”, guna memberi semangat bagi kami semua untuk mengikuti rangkaian acara hari itu. Selama kurang lebih 1 minggu di Yamanaka kami mendapatkan materi tentang apa itu Ashinaga, langsung dari presiden Ashinaga, Yoshiomi Tamai, perkenalan perusahaan telephone genggam yang cukup terkenal, Soft bank. Karena si pembicara merupakan salah satu alumnus Ashinaga. Dan juga materi tentang pentingnya bahasa inggris dari salah satu sensei ashinaga. Panitia juga mengadakan kompetisi antar kelompok, yaitu membuat drama dalam bahasa inggris. Setiap kelompok menampilkan dramanya di atas panggung dan disaksikan seluruh peserta maupun pengurus Ashinaga yang ada di ruangan tersebut. Dan juga Setiap hari selama satu minggu, kita memiliki waktu untuk berkumpul bersama kelompok atau dalam Bahasa Jepangnya “Han Taimu”, kita berkumpul untuk melakukan diskusi dengan tema yang sudah di tentukan, bermain game dan juga menceritakan perjalanan hidup pribadi kita setelah kita ditinggal orang tua kita yang sudah meninggal. Kami semua memiliki nasib yang sama, sehingga tidak ada perbedaan antara kita, walaupun kita datang dari tempat, budaya dan juga bahasa yang berbeda . Dan dari cerita pengalaman pribadi masing – masing tersebut saya menjadi semakin kuat menerjang badai hidup yang sangat kencang ini. Kamipun merasa semakin dekat secara emosional. Dan juga saling mendukung tentunya. Ada juga sesi curhat tentang kekurangan diri sendiri yang susah diatasi seperti susah bangun pagi, dimusuhi teman – teman tanpa alasan yang jelas, ada masalah di tempat baito dsb. Dan juga ada sesi cerita tentang cita – cita kita dan bagaimana cara kita mewujudkanya. Sehari sebelum acara Summer Camp berakhir ada program yang bernama Camp Fiesta. Di program tersebut kami para mahasiswa asing dan juga mahasiswa Ashinaga yang pernah menjadi suka relawan di negara lain, mengenalkan sedikit budaya dari tempat asal kami masing – masing seperti menari tarian daerah tempat asal kami, penyajian minuman khas, bahkan sampai belajar bahasapun ada. Di program tersebut kami berdua bersama dua mahasiswa dari Aceh mempromosikan Tarian Aceh yang sangat terkenal, Tarian Saman. Teman – teman dari irak dan Uganda menyajikan Kopi Negara mereka yang terkenal kelezatannya, sedangkan teman dari Amerika membuka stan belajar Bahasa Inggris. Malamnya saya terpilih untuk mewakili Indonesia di program Candle Light Service bersama empat orang teman yang berasal dari Sri Lanka, Irak, Amerika dan Uganda. Suasana nya seperti renungan malam, hikmat dan menyentuh sekali di hati, terutama saat para leader berbagi tentang perjalanan perjuangan hidup mereka. Setelah itu kami berkumpul bersama kelompok untuk menghabiskan malam terakhir dengan bermain game, bercerita sambil menyantap berbagai snack yang sudah di sediakan hingga pukul 1 pagi. Lalu dilanjutkan dengan menulis kesan ke sesama teman satu kelompok hingga pukul 3 dini hari. Setelah itu kamipun sedikit istirahat dan seperti biasa berkumpul di hall pada jam 07.00. kami menyanyikan lagu Egao n Manma dan juga menari dengan iringan lagu Waving Flag untuk terakhir kalinya dengan bergandengan bersama seluruh peserta acara Summer Camp. Setelah itu kami pun mendapatkan foto dan juga bento untuk makan siang. Setelah itu kami semua menuju stasiun Tokyo untuk kembali ke tempat tinggal masing – masing. Saat peserta yang lain kembali ke rumah masing – masing, kami memulai perjalanan wisata kami. Bersama satu mahasiswa asal Amerika dan empat orang mahasiswa yang tinggal di asrama Kobe, kami menuju Kobe dengan Shinkansen “Sakura”. Itu baru pertama kalinya kami menaiki kereta tercepat yang ada di Negeri tersebut. Kami menaiki kereta Shinkansen “Sakura” dan menghabiskan waktu kira – kira 4 jam perjalanan untuk sampai di Kobe. Setelah sampai di Kobe , kami berkenalan dengan Sensei yang saat itu ada dan juga beberapa teman yang tidak sengaja betemu saat akan ke kamar. Setelah itu ternyata mereka sudah merencanakan acara welcome party untuk kami bertiga. Dengan kondisi sangat lelah sekali, kami mengikuti welcome party tersebut hingga pukul 23.00 waktu setempat.
Lalu hari berikutnya, yaitu tanggal 7 September, kami memulai perjalanan kami di Kobe. Bersama dua orang guide yang ternyata pernah mengunjungi Indonesia, Kuma San dan Yoshi san. Pertama, kami mengunjungi Kebun Binatang Ouji hingga siang, lalu istirahat sebentar sambil makan siang di Mc D terdekat. Lalu kami ke Museum Gempa Bumi Kobe 阪神淡路大震災・記念センタhingga kira – kira pukul 15.00 waktu setempat, dan dilanjutkan ke Aquarium “Sumakaihinsuizokukan” dan juga pantai yang terletak di bagian belakangnya. Setelah itu kami bermaksud untuk menyudahi perjalanan wisata hari itu dan segera kembali ke asrama karena sudah lelah, tetapi sejalan dengan perjalanan pulang, ternyata masih ada beberapa tempat wisata juga yaitu Kobe tower, Pelabuhan Gempa dan juga pusat oleh – oleh yang bernama MOZAIK yang terletak tidak jauh dari pelabuhan gempa tersebut. Hari itu rasanya benar-benar puas sekali bisa berkeliling Kobe sekaligus lelah luar biasa.
Keesokan harinya, 8 September, kami mengunjungi Kyouto yang merupakan kota tua dan memiliki panorama alam yang benar – benar indah. Bersama dua mahasiswa Ashinaga, Sae San dan Miyuki San yang tinggal di asrama sebagai guidenya. Pertama kami mengunjungi Kiyomizudera dan tidak sengaja di tengah jalan menuju tera tersebut, kami bertemu dengan dua orang Maiko San. Kami pun berfoto bersama. Disana kami pun mencoba es kakigoori yang merupakan minuman yang terkenal di saat musim panas, soft ice cream macha dan juga makan siang di salah satu restoran yang ada di sana. Salah satu ojisan restoran tersebut ternyata juga pernah mengunjungi Indonesia. Oleh karena itu ketika kami membeli oleh – oleh kami diberi diskon, senangnya. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan menuju Yasaka Jinja dan Kuil Ginkakuji. Tetapi sayang, ketika di Kuil Ginkakuji, kami tidak bisa naik ke atas untuk melihat kuil yang ada di bagian atas karena kaki kami benar – benar sakit, kami tidak terbiasa jalan kaki dengan jarak yang jauh dan juga dengan frekuensi yang sering.
Hari berikutnya kami mengunjungi Oosaka, disana kami mengunjungi pusat fashion Dotonbori. Di dotonbori kami mencicipi Okonomiyaki di salah satu kedai lama, suasana kedai yang agak jadul menemani nikmatnya Okonomiyaki yang kami santap siang itu. lalu selanjutnya kami ke Benteng Oosaka. Tapi sayang karena kami datang terlambat, kami tidak bisa masuk ke dalam Benteng Oosaka karena sudah di tutup. Dengan naik kereta local tiga kali kami kembali ke asrama yang letaknya cukup jauh dari Oosaka. Perjalanan di Oosaka sekaligus penutup perjalanan kami di Kobe karena keesokan harinya kami harus ke Hiroshima.
Asrama Kobe tidak sebesar asrama Tokyo, penghuninya pun tidak sebanyak di asrama Tokyo. Jadi kami lebih cepat akrab dan merasa seperti satu keluarga. Rasa persahabatan benar – benar terasa dengan teman – teman yang ada di asrama Kobe ini. Keesokan harinya, Sekitar pukul 10 pagi bersama Kuma San dan juga Sae San, kami meninggalkan asrama Kobe dan menuntaskan perjalanan wisata di Kobe dengan menunjungi kantor Koran Kobe dan mengunjungi taman yang terdapat tempat keramat untuk mengenang orang – orang yang telah meninggal karena gempa dahsyat yang menimpa Kobe pada 15 Januari 1995. Setelah itu, kami pun makan siang dan berfoto di tempat yang disebut “Purikura” atau kalau di Surabaya sama seperti foto box. Tetapi sangat berbeda sekali cara maupun hasilnya. Lalu selesai sudah perjalanan kami di Kobe dan kamipun berangkat ke Hiroshima bertiga dengan Shinkansen. Sore hari kami tiba di Hiroshima dan disana sudah menunggu satu mahasiswa Ashinaga, Sumitomo San yang akan menjadi guide kami selama di Hiroshima. Istirahat sebentar di hotel yang telah disediakan dan keluar untuk makan malam. Keesokan harinya kami memulai perjalanan ke Miyajima bersama satu orang guide lagi asal Hiroshima, Haruka San, untuk menikmati keindahan Itsukushima jinja dan juga bangunan bersejarah genbaku do – mu. Benar – benar tidak percaya bisa melihat langsung bangunan – bangunan tersebut dengan mata kepala sendiri. Dan yang paling berkesan adalah ketika kita memasuki museum perdamaian Hiroshima, disana kita benar – benar merasakan sensasi luar biasa tentang keadaan Hiroshima sebelum dan sesudah di bom. Benar – benar menyentuh hati dan membuat setiap orang merasakan kesedihan yang teramat dalam. Sayang ketika di Hiroshima ,kami tidak sempat mencicipi Okonomiyaki Hiroshima yang cukup terkenal kelezatannya, karena waktu yang singkat dan juga schedule yang penuh.
Lalu hari berikutnya, kami harus meninggalkan Hiroshima yang walaupun sebentar, penuh dengan kenangan. Untuk kembali ke asrama Tokyo, pertama harus kami tempuh dengan menggunakan Shinkansen Sakuradan berganti dengan Shinkansen hikari hingga stasiun shinagawa. Dan dilanjutkan dengan kereta local hingga Stasiun Seiseki. Keesokan harinya, siang hari kami makan bersama di asrama bersama teman – teman mahasiswa internasional yang lain. Saat itu saya beserta Sari membuat pecel dan telur dadar , mereka suka dengan makanan yang kita buat dan meminta kami untuk membuatnya lagi. Lalu, sore hari kami bertemu nunuk Sensei dan Gandhi Sensei dan berkumpul di apartemen dwi anggoro Sensei. Setelah dari apartemen dwi Sensei, bersama nunuk Sensei kami pergi ke Shibuya. Saya benar – benar penasaran dengan perempatan besar yang ada di shibuya, perempatan besar yang sangat penuh sesak ketka lampu lalu lintas sudah berubah hijau, maka dari keempat sisi tersebut secara bersamaan menyeberanglah orang – orang. Akhirnya saya mengalaminya sendiri. Terima kasih saya ucapkan kepada Ashinagafoundation yang telah mengundang kami untuk mengikuti program Summer Camp dan juga kepada Sensei gata yang sudah banyak membantu dan mengizinkan kami mengikuti program tersebut. Banyak sekali hal – hal baru yang kami temukan dan kami alami disana. Dimana masyarakat jepang itu benar – benar masyarakat yang tertib, sopan dan juga menjunjung tradisi budaya. Selain itu kesadaran mereka akan kebersihan juga sangat tinggi sehingga saat kami berada disana hampir tidak menemui tempat yang tidak bersih. Dan juga mereka punya cara tersendiri untuk menertibkan masyarakat mereka ketika sedang menggunakan fasilitas umum seperti saat sedang antri naik kereta dan ketika menggunakan eskalator dan juga ketika antri menggunakan toilet. Mereka memiliki cara yang berbeda yang benar – benar jauh berbeda dengan budaya yang ada di tempat dimana saya tinggal, Surabaya. Benar – benar menjadi sebuah pengalaman yang sangat berharga bagi saya, dan juga menjadi semangat bagi saya untuk lebih kuat menjalani hidup mulai saat ini sampai seterusnya.

Selanjutnya Sari Saraswati juga menceritakan pengalamannya
Sari Saraswati
Pada tanggal 28 Agustus 2011 kami berangkat dari Bandara Juanda Surabaya pukul 20.00 WIB dengan menggunakan pesawat Garuda, kemudian transit di Bandara Ngurah Rai Denpasar-Bali. Pukul 01.00 WITA pesawat Garuda take off dari Bandara Ngurah Rai menuju Bandara Narita. Setelah menempuh perjalanan selama 8 jam akhirnya kami tiba di Bandara Narita di prefektur Chiba pukul 10.00 waktu Jepang pada tanggal 29 Agustus 2011. Disana kami dijemput oleh seorang staf Ashinaga, Katsuhara Sensei dan seorang mahasiswa Ashinaga, Rahmat (Orang Indonesia asal Aceh yang menempuh pendidikan di Universitas Waseda). Rasanya kami masih tidak percaya telah menapakkan kaki di Jepang. Lalu, kami berempat naik bis yang telah tersedia di Bandara Narita kemudian menuju Tokyokokorojuku (asrama Ashinaga di Tokyo), perjalanan ditempuh selama 2 jam.
Setelah tiba di asrama kami disambut oleh para staf Ashinaga lainnya dan mendapatkan pengarahan dari Katsuhara Sensei, Yoshida Sensei. Kemudian, Rahmat dan Miki (Orang Indonesia asal Aceh yang menempuh pendidikan di Universitas Waseda) juga memberikan pengarahan mengenai aturan asrama,kegiatan asrama, ruangan-ruangan yang ada di asrama. Tokyokokorojuku merupakan bangunan yang sangat besar, di dalamnya dibagi 2 bagian yaitu laki-laki dan perempuan yang dipisahkan oleh pintu di lantai 2. Di asrama, selain banyak teman Jepang, juga ada teman dari Uganda yang menempuh pendidikan di Jepang. Dalam melakukan komunikasi, kami menggunakan bilingual yaitu bahasa Jepang dan Bahasa Inggris. Kegiatan rutin apa saja sih yang kita lakukan di asrama ?
1. Bangun pagi pukul 06.30 (setiap pagi diputarkan musik yang berfungsi sebagai ‘alarm’).
2. Apel pagi di halaman asrama.
3. Membersihkan asrama. Setiap anak dibagi dalam kelompok-kelompok untuk mengerjakan tugas masing-masing.
4. Sarapan pagi dengan 2 buah roti dan sekotak susu sapi.
5. Membuang sampah harus sesuai aturan dan sesuai dengan tempat yang disediakan.
6. Batas mencuci pakaian dan mandi hingga pukul 23.00 (kecuali musim panas tidak dibatasi jam untuk mandi).
7. Jam malam asrama pukul 23.00.
Dengan melakukan kegiatan rutin itu kami belajar tentang disiplin dan teratur, kebersihan, kewajiban. Selama ini kami hanya mendengar cerita dari dosen, tapi kini kami telah mengalaminya langsung dan belajar banyak dari karakter orang Jepang itu.
Esok harinya tanggal 30 Agustus 2011, kami berdua bersama Rahmat dan Miki melaksanakan Sholat Ied di Masjid Turki di Yoyogi. Itu adalah pengalaman pertama kami merayakan hari raya Idul Fitri di negara lain dan jauh dari keluarga, tentunya ada perasaan senang sekaligus haru karena tidak berkumpul dengan keluarga. Setelah selesai sholat, kami dipersilahkan oleh panitia masjid untuk menyantap makanan yang telah disediakan. Kemudian, kami berempat telah membuat janji dengan dosen kami yaitu Gandhi Sensei untuk bertemu hari itu. Lalu, kami berdua, Miki dan Gandhi Sensei pergi ke Shinokubo untuk makan siang. Kami makan siang di 店や天丼 (Tenya Tendon) dengan menu udon dan tempura. Setelah makan siang, perjalanan dilanjutkan ke Tokyo Tower. Kami berdua diantar oleh Keihan (Mahasiswa asal Irak yang menempuh pendidikan di Universitas Waseda) dan Rahmat .
Tibalah pada tanggal 31 Agustus 2011 kami berdua berangkat menuju Yamanakako untuk mengikuti Summer Camp yang diadakan oleh Ashinaga. Acara ini diikuti kurang lebih 400 mahasiswa dari seluruh prefektur di Jepang dan berlangsung selama 6 hari, 31 Agustus-5 September 2011. Disana kami dibagi dalam 18 kelompok dan kami berdua terpisah. Saya (Sari) tergabung dalam kelompok 6 yang diketuai oleh Kiri dan Morichi, sedangkan Nurul tergabung dalam kelompok 2 yang diketuai oleh Yasu dan Maki. Kegiatan kami disana bermacam-macam, diantaranya menyanyi dan menari bersama (diiringi lagu Wavin Flag by Knaan dan tarian khas Yamanakako no Tsudoi), membuat jargon kelompok, berdiskusi,bermain game, membuat ‘peta’ impian dan cita-cita, membuat drama dengan menggunakan bahasa Inggris. Kegiatan itu dilakukan bersama kelompok. Disana juga memperoleh motivasi dari direktur Soft Bank. Kegiatan yang menyenangkan sekali. Bertemu dengan kawan-kawan baru dan pengalaman baru. Dalam salah satu acara, Kokusai Fest (Festival Internasional), saya (Sari), Nurul,Miki, Rahmat menampilkan tarian asal Aceh dan mengajarkan kepada teman-teman orang Jepang. Hal tersebut merupakan pengalaman pertama kami, menarikan tarian Aceh dan kami mempelajarinya sangat singkat yaitu 1 malam saja. Lalu, malam harinya tibalah acara puncak yaitu Camp Fiesta (mahasiswa asing menyalakan lilin bersama) dan renungan malam.
Berakhirnya acara Summer Camp, perjalanan kami berdua berlanjut ke Kobe. Kami pergi ke Kobe tidak hanya berdua, tapi pergi bersama Jimi, Yashi, Kohei, Chris. Untuk sampai ke Kobe kami menempuh waktu selama 3 jam dengan Shinkansen. Setibanya di Kobekokorojuku (asrama Kobe), kami disambut oleh para staf Ashinaga dan beberapa teman asrama. Kami menghadiri kangekai (welcome party) yang telah disiapkan oleh teman-teman, menu makan malamnya adalah nabe dan berbagai camilan serta minuman. Di sela-sela makan, kami berbincang-bincang.
Pada tanggal 6 September 2011 kami pergi mengunjungi beberapa tempat dalam sehari. Saya (Sari), Nurul, Jimi ditemani oleh Kuma san, Oshii san, dan Yashi san. Pertama, kami mengunjungi Kobe Oji Zoo (Kebun Binatang Kobe). Kedua, mengunjungi Museum Gempa Bumi-Kobe. Ketiga, pergi ke Kaihinsuizokuen (seperti Sea World di Jakarta). Keempat, kami mengunjungi sebuah pelabuhan di Kobe yang menjadi saksi biksu atas dahsyatnya gempa Kobe tahun1995. Kelima, mengunjungi China Town (semacam Kya-Kya di Surabaya), disana kami mencicipi ebi furai dan kue mochi. Terakhir kami berbelanja di Mosaic.
Tujuan kami selanjutnya pada tanggal 7 September 2011 adalah Osaka. Kami berdua dan Jimi ditemani oleh Ta san dan Maruko san. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Dotonbori (商店街 [shoutengai]: shopping distric) .Disana kami mencicipi makanan yang terkelan enak di Osaka yaitu Okonomiyaki. Setelah makan siang, kami melanjutkan perjalanan ke Osaka Jo (Benteng Osaka). Sebelum kembali ke asrama, kami menikmati Takoyaki.
8 September 2011 kami berdua dan Jimi menuju ke Kyoto dengan ditemani oleh Miyuki san dan Sae san. Dalam sehari kami mengunjungi 3 tempat. Pertama, kami pergi ke Kiyomizudera, dalam perjalanan kesana kami bertemu dengan maiko san dan berfoto bersama. Disepanjang jalan menuju Kiyomizudera terdapat berbagai toko sovenir, makanan dan minuman khas Kyoto, seperti Yatsuhashi (salah satu jenis dari wagashi), kakigoori. Selanjutnya kami menuju Yasaka Jinja dan terakhir Ginkakuji.
Keesokannya, 9 September 2011 kami berdua dan Jimi hijrah ke Hiroshima dengan Shinkansen. Di stasiun kami dijemput oleh Matsumoto san dan menginap di sebuah penginapan yang bernama J-Hoppers. Tanggal 10 September 2011, kami bertiga ditemani oleh Matsumoto san dan Haruka san ke Miyajima dan Genbaku Do-mu. Di Miyajima terdapat Itsukushima dan kami bertiga sowan sebentar disana. Kami berlima foto bersama dan bermain-main di tepi pantai. Selanjutnya, kami menuju ke Genbaku Do-mu dan Museum Peringatan Perdamaian Hiroshima. Disana kami melihat langsung bangunan dan tempat bekas pemboman di Hiroshima. Setiap tahun tanggal 6 Agustus diadakan upacara peringatan di halaman yang terletak di depan Museum. Di museum, kami menonton film mengenai pemboman di Hiroshima, melihat replika kota Hiroshima sebelum dan sesudah di bom atom, patung lilin orang-orang yang menderita karena nuklir, bekas-bekas pakaian, alat atau potongan tubuh korban pemboman. Sungguh mengerikan dan kejam.
Pada tanggal 11 September 2011 kami berdua dan Jimi kembali ke Tokyokokorojuku dengan Shinkansen. Sampai di asrama kami istirahat dan melanjutkan perjalanan keesokan harinya. Tanggal 12 September 2011, kami bertiga ditemani Miki dan Morichi ke Kamakura. Disana kami mengunjungi tempat yang bernama Hachimangu Jinja dan berbelanja senbei (kue beras) di sekitar Jinja. Malam harinya kami makan malam bersama Rahmat, beberapa mahasiswa asal Uganda, Sato Sensei dan Katsuhara Sensei sebagai acara perpisahan sebelum kami bertiga kembali ke negara masing-masing.
Sehari sebelum pulang ke Indonesia, saya (Sari), Nurul, Morichi dan Nozomi san telah membuat janji untuk bertemu dengan Gandhi Sensei, Nunuk Sensei dan berkumpul di apartemen Dwi Sensei. Disana kami makan malam bersama dengan menu soto ayam, masakan istri Dwi Sensei dan beberapa camilan, minuman serta buah. Kami juga berbincang-bincang, bercanda dan foto-foto bersama. Momen yang tidak bisa kami lupakan. Kemudian, malam harinya kami pergi ke Shibuya dan Harajuku. Di Shibuya kami mengunjungi Patung Hachiko, lalu mencicipi sushi ditemani oleh Nunuk Sensei. Saya (Sari), Nurul, Morichi pergi menuju Harajuku namun tidak ditemani Nunuk Sensei karena beliau harus segera pulang.
Tanggal 14 September 2011 tibalah saatnya kami berdua dan Jimi untuk pulang. Kami bertiga diantar oleh Ritah (salah seorang teman di asrama) sampai Bandara Narita. Sesampainya di Narita kami berdua turun dari bis dan berpisah dengan Jimi, Jimi menuju pintu utara untuk pulang ke Amerika dan kami berdua di pintu selatan. Pesawat kami berangkat pukul 12.00 waktu Jepang. Pesawat transit lebih dulu di Jakarta dan pukul 21.00 WIB Garuda terbang menuju Bandara Juanda.
Senang ya bisa ikut mendengar cerita dari kedua mahasiswi ini. Semoga saja makin banyak teman-teman Sastra Jepang yang bisa berangkat di Jepang. Amiin..
^_^

NB : Foto bisa dilihat disini

You Might Also Like

1 komentar